CN-235 Buatan Indonesia Terlibat Dalam Operasi Penangkapan Nicolas Maduro
LINTAS1AGUPENA.ORG – Jakarta, Dunia dirgantara Indonesia kembali menjadi sorotan internasional setelah pesawat CN-235, hasil kolaborasi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan CASA Spanyol (kini bagian dari Airbus Defence and Space), terlibat dalam operasi militer besar-besaran Amerika Serikat yang berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.
Operasi dengan sandi Operation Absolute Resolve tersebut dilaksanakan pada dini hari 3 Januari 2026 di Caracas, ibu kota Venezuela, dan melibatkan lebih dari 150 pesawat militer AS.
Menurut berbagai laporan media internasional termasuk The New York Times dan sumber-sumber di Pentagon (6/01/25), pesawat CN-235 varian khusus milik US Air Force Special Operations Command (USAFSOC), tepatnya Skadron Operasi Khusus ke-427, memainkan peran penting meski bersifat pendukung dan sunyi.
Pesawat turboprop ini dikenal tangguh dengan kemampuan STOL (Short Take-Off and Landing), memungkinkan operasi di landasan pendek atau bahkan medan terpencil, serta sering digunakan untuk misi pengintaian, infiltrasi, dan dukungan operasi khusus.
Kehadiran CN-235 di antara armada modern seperti F-35 dan helikopter Night Stalkers menunjukkan betapa relevannya platform ini dalam operasi militer kontemporer.
Operasi penangkapan berlangsung cepat hanya sekitar 2,5 jam, dengan pasukan khusus AS (termasuk Delta Force) menyergap kediaman resmi Maduro di kompleks militer Fuerte Tiuna.
Tuduhan utama yang menjadi dasar operasi ini adalah keterlibatan Maduro dalam perdagangan narkoba skala besar (narco-terrorism) ke wilayah AS, serta dugaan kerja sama dengan kartel seperti Sinaloa dan geng Tren de Aragua.
Setelah ditangkap, Maduro dan istrinya langsung dievakuasi dengan helikopter menuju kapal perang AS di Karibia, kemudian diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan di pengadilan federal.
Keterlibatan CN-235 menuai kebanggaan sekaligus perhatian khusus di Indonesia karena pesawat ini merupakan desain bersama IPTN (kini PTDI) dan CASA sejak 1979, dengan produksi serial dimulai tahun 1986. Meski unit yang digunakan AS banyak dirakit di Sevilla, Spanyol, kontribusi desain dan komponen dari Bandung membuat setiap CN-235 mengandung “darah” industri dirgantara Indonesia.
Saat ini, PTDI di Bandung menjadi satu-satunya tempat produksi penuh CN-235 di dunia, menjadikannya bukti nyata kapabilitas teknologi pertahanan Tanah Air yang mendunia.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan keprihatinan atas operasi militer tersebut, menyerukan dialog inklusif dan penghormatan terhadap kedaulatan negara. Sementara itu, dunia menyaksikan bagaimana pesawat “buatan Indonesia” turut mencatat sejarah dalam salah satu operasi paling dramatis abad ini, sekaligus mengukuhkan posisi CN-235 sebagai pesawat angkut taktis serbaguna yang tetap relevan di panggung global.
Ty

