AS Bombardir Caracas, Nicolas Maduro Ditawan Delta Force
LINTAS1AGUPENA.ORG – Internasional, Pasukan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan besar-besaran terhadap Caracas, ibu kota Venezuela, pada dini hari 3 Januari 2026, yang mengakibatkan ledakan-ledakan dahsyat di berbagai lokasi strategis termasuk pangkalan militer Fuerte Tiuna dan La Carlota.
Serangan tiba-tiba itu menargetkan wilayah Miranda, Aragua, dan La Guaira, menyebabkan kebakaran hebat, pemadaman listrik, dan evakuasi warga sipil.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa operasi tersebut berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, yang kemudian diterbangkan keluar dari negara itu. Ini merupakan intervensi militer AS paling langsung di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989.
Operasi penangkapan dipimpin oleh pasukan elit Delta Force milik Angkatan Darat AS, bekerja sama dengan agen FBI dan DEA, yang menyerbu kamar tidur Maduro di Istana Miraflores saat ia sedang tidur. Tidak ada korban jiwa di pihak AS, sementara Venezuela melaporkan kematian di kalangan militer dan sipil akibat serangan tersebut.
Intelijen dari sumber CIA di dalam pemerintahan Maduro, didukung oleh drone siluman dan imbalan US$50 juta, memfasilitasi operasi yang telah direncanakan selama berbulan-bulan. Maduro kini dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan narkoterorisme dan konspirasi perdagangan kokain di pengadilan federal.
Dilansir dari Reuters, Trump menyatakan keberhasilan operasi ini melalui posting di Truth Social, menyebutnya sebagai “serangan brilian” dengan perencanaan yang baik dan pasukan hebat. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Maduro bukan presiden sah Venezuela, sementara Jaksa Agung Pam Bondi menegaskan bahwa Maduro akan menghadapi “kemarahan penuh keadilan Amerika” di tanah AS.
Wakil Presiden JD Vance membela legalitas misi ini berdasarkan dakwaan terhadap Maduro dan upaya AS untuk menghentikan aliran narkoba. Konferensi pers dijadwalkan pada pukul 11 pagi waktu setempat di Mar-a-Lago untuk membahas detail lebih lanjut.
Sumber dari Nytimes menyebutkan bahwa Pemerintahan Venezuela merespons dengan keras, dengan Wakil Presiden Delcy Rodríguez menuntut bukti keberadaan Maduro dan menyatakan ketidaktahuan tentang lokasinya.
Sebaliknya, Menteri Pertahanan Vladimir Padrino mengecam intervensi ini sebagai agresi teroris dan menyerukan perlawanan rakyat. Kelompok bersenjata sipil pro-pemerintah, colectivos, muncul di jalanan Caracas, sementara darurat nasional dideklarasikan dan warga diminta tetap tenang. Oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, belum memberikan komentar resmi, meskipun ada dugaan keterlibatan militer internal dalam operasi ini.
Reaksi internasional datang dari Rusia, Kuba, dan Iran mengecam serangan sebagai pelanggaran kedaulatan dan menyerukan pertemuan Dewan Keamanan PBB.
Uni Eropa, termasuk pemimpin seperti Ursula von der Leyen dan Kaja Kallas, menyerukan de-eskalasi dan transisi damai sesuai hukum internasional. Inggris menyatakan tidak terlibat dan meminta warganya berlindung, sementara China menyarankan warganya menghindari Venezuela. Beberapa negara Eropa seperti Swedia dan Swiss menekankan keselamatan warga dan penghormatan terhadap hukum internasional.
Latar belakang konflik ini mencakup tuduhan AS bahwa Maduro menjalankan “narco-state” melalui Kartel de Los Soles, pemalsuan pemilu 2024, dan penindasan oposisi. Operasi ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak jangka pendek, meskipun fasilitas minyak Venezuela tidak rusak parah.
Di AS, ada kritik dari Kongres mengenai wewenang perang presiden, sementara pendukung Trump di Florida memuji langkah ini sebagai kemenangan melawan narkoterorisme. Masa depan Venezuela kini tidak pasti, dengan kemungkinan suksesi konstitusional ke Rodríguez atau kolaps rezim.
Ty
Foto: NRP

