Internasional

Ambisi Global di Balik Perang Saudara Sudan

Spread the love

LINTAS1AGUPENA.ORGSudan, Perang saudara di Sudan yang meletus sejak April 2023 antara Pasukan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) bukan hanya konflik internal, melainkan panggung bagi ambisi global berbagai kekuatan asing. Negara-negara seperti Uni Emirat Arab (UAE), Rusia, Mesir, dan bahkan Israel terlibat secara langsung melalui dukungan militer, senjata, dana, serta upaya mediasi, yang memperpanjang penderitaan rakyat Sudan, Minggu (2/11/25).

Konflik yang menewaskan lebih 15 ribu orang dan jutaan lainnya harus mengungsi ini ditengarai melibatkan campur tangan di belakang layar oleh sejumlah negara. Aktor-aktor internasional memanfaatkannya untuk mengamankan akses ke sumber daya alam seperti emas, minyak, dan posisi strategis di Laut Merah.

Uni Emirat Arab menjadi salah satu pemain utama yang mendukung RSF di bawah pimpinan Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti), dengan menyediakan senjata canggih dan dukungan logistik.

Ambisi UAE terlihat jelas dalam upayanya menguasai perdagangan emas Sudan dan membangun pangkalan militer di pantai timur Afrika. Dukungan ini tidak hanya memperkuat posisi RSF di medan perang, tetapi juga memperburuk krisis kemanusiaan, di mana bantuan asing sering kali disalahgunakan untuk kepentingan geopolitik daripada bantuan rakyat.

Di sisi lain, Rusia melalui kelompok tentara bayaran Wagner Group telah mendukung kedua belah pihak, meskipun lebih condong ke RSF untuk mengamankan tambang emas di wilayah Darfur. Keterlibatan Rusia ini bagian dari strategi lebih luas untuk memperluas pengaruh di Afrika, termasuk akses ke pelabuhan dan sumber daya mineral.

Sementara itu, Mesir mendukung SAF yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, khawatir akan stabilitas perbatasan dan aliran Sungai Nil, yang menjadi isu vital bagi keamanan nasionalnya. Israel, meskipun tidak secara resmi mendukung satu sisi militer, menjaga kontak dengan kedua belah pihak melalui Kementerian Luar Negeri yang condong ke SAF dan Mossad yang lebih dekat dengan RSF, dengan tuduhan penggunaan teknologi Israel oleh RSF.

Dampak dari ambisi global ini semakin memprihatinkan, dengan Sudan mengalami kelaparan massal, penyakit menular, dan kehancuran infrastruktur. Organisasi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menuduh aktor asing memperpanjang perang, menghambat upaya perdamaian, dan memperburuk situasi di mana lebih dari 10 juta orang mengungsi.

Negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, dikritik karena kurangnya keterlibatan aktif, yang memungkinkan kekuatan regional mendominasi narasi konflik, sementara Israel melihat konflik ini melalui lensa geopolitik untuk mengamankan normalisasi hubungan dan melawan pengaruh Iran.

Meskipun ada upaya mediasi dari Arab Saudi, negara-negara Afrika, dan Israel yang berfokus pada gencatan senjata serta normalisasi diplomatik di bawah Abraham Accords, prospek perdamaian tetap suram karena kepentingan asing yang saling bertabrakan.

Para analis memperingatkan bahwa tanpa intervensi internasional yang netral, Sudan bisa menjadi medan proxy war berkepanjangan, mirip dengan konflik di Libya atau Yaman. Hanya dengan menekan aktor asing untuk menghentikan dukungan militer, Sudan mungkin bisa memulai jalan menuju rekonsiliasi nasional dan pemulihan.

Ty


Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *