Prancis Membara, Seruan Block Everything Menggema Ke Seluruh Pelosok
LINTAS1AGUPENA.ORG – Paris, Prancis dilanda kekacauan hebat akibat gelombang demonstrasi massal bertajuk “Block Everything” yang dipicu oleh kekecewaan terhadap kebijakan ekonomi pemerintah sejak 10 September 2025.
Kenaikan harga bahan bakar, energi, dan pemotongan anggaran sebesar 44 miliar euro telah memicu kemarahan rakyat, terutama pekerja, petani, dan mahasiswa. Seperti yang dikutip dari The Guardian aksi protes ini menyebar dari media sosial menjadi gerakan nasional, dengan blokade di jalan raya, pelabuhan, dan bandara utama seperti Paris Charles de Gaulle, menyebabkan lumpuhnya transportasi di berbagai wilayah, Jumat (12/09/25).
Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau menjadi ujung tombak penanganan krisis ini, mengerahkan 80.000 petugas keamanan untuk mengendalikan situasi. Kekacauan seperti pembakaran bus di Rennes dan gangguan kereta api di barat daya Prancis menjadi sorotan, dengan Retailleau menyatakan bahwa demonstran gagal “memblokir Prancis sepenuhnya,” meski ia mengakui adanya “iklim pemberontakan.”
Bentrokan antara polisi dan demonstran di kota-kota besar seperti Lyon dan Marseille semakin memperkeruh suasana, dengan gas air mata dan meriam air digunakan untuk membubarkan massa.
Perdana Menteri baru, Sébastien Lecornu, yang dilantik pada 10 September 2025, menghadapi ujian berat di awal masa jabatannya. Pemotongan anggaran yang dianggap sebagai langkah penghematan ketat menjadi salah satu pemicu utama protes ini. Lecornu, yang menggantikan François Bayrou, berjanji membuka dialog dengan demonstran, namun tawaran ini ditolak karena dianggap tidak serius. Protes ini menjadi “baptisan api” bagi Lecornu, dengan para demonstran menuntut reformasi ekonomi yang lebih adil dan penghapusan kebijakan yang membebani rakyat kecil.
Dikutip dari Reuters, di puncak kepemimpinan, Presiden Emmanuel Macron menjadi sasaran utama kemarahan demonstran. Kebijakan austerity dan ketidakstabilan politik yang berkepanjangan membuatnya dikecam, dengan pemimpin sayap kiri seperti Jean-Luc Mélenchon menyerukan “memblokir segalanya” untuk menjatuhkan Macron.
Situasi tersebut mengingatkan pada protes Gilets Jaunes tahun 2018, menambah tekanan pada Macron yang kini berjuang mempertahankan stabilitas pemerintahannya. Tagar #BlocageTotal menjadi trending global di media sosial, mencerminkan luasnya dukungan terhadap gerakan ini.
Dampak ekonomi dari protes ini kian terasa, dengan gangguan rantai pasok, penutupan pusat distribusi, dan kerugian besar bagi pelaku bisnis lokal maupun internasional.
Uni Eropa menyatakan keprihatinan dan meminta semua pihak menahan diri, sementara negara tetangga seperti Jerman dan Belgia memperketat pengawasan perbatasan. Wisatawan disarankan menunda perjalanan ke Prancis hingga situasi stabil. Beberapa analis memperingatkan bahwa tanpa solusi cepat, krisis ini berpotensi menjadi pemberontakan yang lebih besar, mengancam stabilitas kawasan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, dunia internasional melalui PBB terus memantau perkembangan di Prancis. Seruan “Block Everything” tidak hanya mengguncang infrastruktur fisik, tetapi juga menggoyahkan kepercayaan terhadap pemerintahan Macron. Dengan demonstrasi yang kian meluas dan pemerintah yang tampak kewalahan, pertanyaan besar kini adalah apakah Prancis mampu meredam gejolak ini atau justru akan terjerumus ke dalam kekacauan yang lebih dalam.
Ty

