Italia Lumpuh Didemo, PM Giorgia Meloni Ikuti Jejak AS Tolak Palestina Merdeka
LINTAS1AGUPENA.ORG. – Roma, Italia dilanda gelombang protes massal yang melumpuhkan transportasi dan aktivitas ekonomi di berbagai kota besar. Ribuan demonstran pro-Palestina memadati jalanan Milan, Roma, dan Napoli, memicu bentrokan sengit dengan polisi yang melukai puluhan petugas keamanan.
Seruan “Bebaskan Palestina” bergema di seluruh negeri, sebagai respons langsung terhadap keputusan Perdana Menteri Giorgia Meloni yang menolak pengakuan negara Palestina merdeka, sejalan dengan sikap keras Amerika Serikat di tengah eskalasi perang Gaza. Demonstrasi ini, yang didukung serikat buruh, telah menghentikan kereta api dan memblokir pelabuhan utama, menandai salah satu aksi terbesar di Eropa terhadap kebijakan pro-Israel pemerintah sayap kanan Meloni.
Keputusan Meloni untuk menolak pengakuan Palestina telah diumumkan secara tegas sejak akhir Juli lalu, di mana ia menyatakan bahwa langkah tersebut “bisa kontraproduktif” karena negara Palestina belum sepenuhnya terbentuk. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan media Italia La Repubblica, di mana Meloni menekankan bahwa pengakuan prematur hanya akan menyelesaikan masalah di atas kertas tanpa menyentuh akar konflik.
Sikap itu segera memicu kritik dari oposisi domestik dan kelompok hak asasi manusia, yang menuduh pemerintah Italia mengabaikan krisis kemanusiaan di Gaza di mana lebih dari 65.000 warga Palestina telah tewas sejak Oktober 2023. Meloni, yang dikenal dekat dengan administrasi Donald Trump, tampaknya mengikuti jejak AS yang konsisten menentang pengakuan sepihak Palestina di PBB.
Pada 22 September 2025 kemarin, gelombang protes mencapai puncaknya ketika serikat buruh menggelar mogok nasional, memblokir stasiun kereta Termini di Roma yang dikumpulkan lebih dari 20.000 orang.
Di Milan, kerumunan demonstran merusak fasilitas stasiun utama, memaksa polisi menggunakan gas air mata dan meriam air, yang mengakibatkan 60 petugas terluka.
Pelabuhan Genoa dan Livorno juga lumpuh akibat aksi buruh pelabuhan yang menolak pengiriman senjata ke Israel, menambah tekanan ekonomi pada pemerintah. Meloni dengan cepat mengutuk kekerasan tersebut sebagai “kekerasan yang memalukan” melalui akun X-nya, menegaskan bahwa aksi tersebut tidak akan mengubah posisi Italia dan justru merugikan warga biasa.
Sikap Italia ini selaras dengan posisi AS, yang di bawah Trump terus menolak pengakuan Palestina sebagai negara berdaulat, menganggapnya sebagai “hadiah bagi terorisme” Hamas. Baik Washington maupun Roma berargumen bahwa solusi dua negara harus dicapai melalui negosiasi langsung, bukan pengakuan sepihak yang bisa melemahkan posisi Israel.
Sementara itu, negara-negara Eropa seperti Prancis, Inggris, Kanada, dan Australia baru saja mengumumkan pengakuan pada akhir pekan lalu di Majelis Umum PBB, mendorong momentum diplomatik yang semakin kuat. Italia dan Jerman menjadi satu-satunya negara G7 besar yang bertahan dengan penolakan, meskipun keduanya mendukung solusi dua negara secara prinsipil.
Reaksi internasional terhadap penolakan Italia semakin memanas, dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyebut keputusan Meloni sebagai “pukulan bagi perdamaian”. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji sikap Roma sebagai “langkah berani” yang melindungi keamanan Israel dari ancaman eksistensial.
Demonstran di Italia, termasuk pemuda seperti Michelangelo (17 tahun) yang berunjuk rasa di Roma, menyerukan agar pemerintah memutus hubungan dagang dengan Israel dan menerapkan sanksi UE yang tertunda. Oposisi Italia, termasuk Partai Demokrat, menuntut voting ulang di parlemen untuk pengakuan Palestina, mengklaim bahwa kebijakan Meloni semakin mengisolasi Italia di Eropa.
Di tengah lumpuhnya aktivitas nasional, terdengar kabar pemerintah Meloni berjanji untuk memperkuat dialog dengan mitra Arab sambil mempertahankan aliansi Atlantik. Namun, dengan protes yang berlanjut dan tekanan dari serikat buruh, masa depan kebijakan luar negeri Italia tampak goyah.
Analis memperingatkan bahwa penolakan ini bisa memicu krisis politik domestik lebih dalam, terutama menjelang Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milan yang sudah terancam oleh kerusuhan. Sementara itu, rakyat Palestina terus menunggu keadilan, dengan harapan bahwa tekanan global akan memaksa perubahan, meskipun Italia untuk sementara mengikuti jejak AS dalam menolak kemerdekaan mereka.
Ty

