Mengenang Jose Mujica 1935 – 2025 Presiden Termiskin di Dunia
LINTAS1AGUPENA.ORG – Montevideo (16/05/25), Dunia kehilangan sosok Kose Alberto Mujica Cordano, atau yang akrab disapa “Pepe” Mujica. Pepe adalah mantan presiden Uruguay yang wafat pada 13 Mei 2025 di usianya yang menginjak 89 tahun.
Mujica meninggalkan warisan kepemimpinan yang penuh kerendahan hati, integritas, dan dedikasi untuk rakyatnya. Gaya hidupnya yang sederhana dan kebijakannya yang progresif menjadikan dirinya sebagai ikon global, terutama di Amerika Latin.
Mujica lahir di Montevideo 20 Mei 1935 dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Masa mudanya yang keras ditempa saat bergabung dengan kelompok gerilya Tupamaros, yang menentang kediktatoran Uruguay tahun 1960-an dan 1970-an. Aktivitasnya itu membuatnya dipenjara selama 14 tahun. Pengalaman ini membentuk pandangannya tentang kebebasan dan kesederhanaan, yang kemudian tercermin dalam kepemimpinannya.
Mujica menjabat sebagai Presiden Uruguay dari 2010 hingga 2015. Berbeda dengan kebanyakan pemimpin dunia, ia menolak tinggal di istana presiden dan memilih rumah peternakan sederhana di pinggiran Montevideo bersama istrinya, Lucia Topolansky, yang juga mantan gerilyawan dan politisi. Rumah mereka, dengan sumur sebagai sumber air dan hanya dijaga dua polisi serta anjing berkaki tiga bernama Manuela, menjadi simbol kesederhanaan Mujica.
Selama masa jabatannya, Mujica menyumbangkan sekitar 90% gajinya, yang berjumlah USD 12.000 per bulan, untuk amal, masyarakat miskin, dan pengusaha kecil. Ia hanya menyisakan sekitar USD 800 untuk kebutuhan pribadi, setara dengan pendapatan rata-rata warga Uruguay saat itu. Kekayaannya yang tercatat pada 2010 hanya sebesar USD 1.800, berasal dari mobil Volkswagen Beetle 1987 yang ia kendarai sendiri.
Kepemimpinan Mujica membawa perubahan signifikan di Uruguay, ekonominya tumbuh rata-rata 5,4% pertahun. Kemiskinan menurun dan pengangguran rendah. Ia juga memperkenalkan kebijakan progresif, sebuah langkah yang menjadikan negaranya sebagai pelopor di Amerika Latin. Kebijakan tersebut mencerminkan pragmatisme dan keberaniannya dalam menghadapi isu sosial.
Meski dijuluki “presiden termiskin,” Mujica menolak label tersebut. “Saya tidak miskin. Miskin adalah mereka yang bekerja hanya untuk gaya hidup mewah dan selalu ingin lebih,” katanya dalam wawancara dengan BBC pada 2012. Baginya, hidup sederhana adalah kebebasan, memungkinkan seseorang memiliki waktu untuk hal-hal yang benar-benar berarti, seperti politik, buku, dan bertani.
Kepergian Mujica memicu gelombang duka dari seluruh dunia. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyebutnya “salah satu humanis terbesar era ini,” sementara Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum memujinya sebagai teladan bagi Amerika Latin. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez bahkan menyatakan bahwa Mujica “kini hidup di dunia yang lebih baik.” Di Uruguay, masa berkabung nasional selama tiga hari diumumkan, dan jenazahnya disemayamkan di Istana Legislatif.
Mujica juga dikenal blak-blakan dan kritis terhadap konsumerisme. Ia sering menghadiri acara resmi dengan pakaian kasual dan sandal, serta mengkritik pemimpin otoriter, termasuk di Venezuela dan Nikaragua. Gaya komunikasinya yang tulus dan dekat dengan rakyat membuatnya dicintai, bahkan oleh mereka yang tidak setuju dengan kebijakannya.
Setelah pensiun dari politik pada 2020 karena alasan kesehatan, termasuk diagnosis kanker esofagus, Mujica tetap hidup sederhana, menanam bunga anyelir bersama istrinya. Hingga akhir hayatnya, ia terus merefleksikan hidup dan kematian dengan tenang, menyebut kematian sebagai “garam dalam hidup.” Warisannya sebagai pemimpin yang rendah hati dan visioner akan terus menginspirasi generasi mendatang.
Jose Mujica bukan hanya presiden, tetapi juga simbol bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari kekayaan atau kekuasaan, melainkan dari integritas dan pengabdian. “Sampai selamanya, sahabat tua,” tulis para aktivis di spanduk peringatan di markas Gerakan Partisipasi Rakyat (MPP), partai yang ia dirikan. Dunia akan selalu mengenang Pepe sebagai sosok yang hidup untuk rakyat, bukan untuk dirinya sendiri.
Kontributor: Ty

