CRYPTOCURRENCY

Danantara Didorong Bentuk Cadangan Strategis Bitcoin: Strategi Baru atau Risiko Besar?

Spread the love

LINTAS1AGUPENA.ORGJakarta, (10 Mei 2025) – Danantara Indonesia Sovereign Fund (DISF) menggebrak dunia keuangan dengan usulan cadangan strategis Bitcoin sebagai bagian dari portofolio investasi negara. Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyatakan bahwa pendekatan ini dapat mendukung pengembangan ekosistem teknologi keuangan melalui investasi strategis, termasuk proyek tokenisasi aset dunia nyata (real world asset) yang memiliki manfaat ekonomi lebih terukur. Namun, Fawzi juga mengingatkan pentingnya prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan aset digital.

OJK turut menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam pendekatan ini. Dalam pernyataannya, Fawzi menekankan bahwa setiap kebijakan investasi yang melibatkan Bitcoin harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan berdasarkan kerangka hukum yang berlaku. “Danantara sebagai badan pengelola investasi negara memiliki tanggung jawab untuk mengelola kekayaan negara dengan tata kelola yang baik dan manajemen risiko yang memadai serta efektif,” ujarnya.

Sementara itu, Anthony Leong, Ketua Badan Pengurus Himpunan Bidang Sinergitas BUMN, Danantara, dan BUMD, mengusulkan langkah strategis untuk investasi Bitcoin guna melunasi utang Indonesia yang mencapai Rp 8.400 triliun. Leong memperkirakan bahwa dengan nilai Bitcoin saat ini, Indonesia hanya membutuhkan sekitar 200.000 Bitcoin untuk melunasi utang tersebut. “Kalau kita melihat potensi Bitcoin, jika Rp 300 triliun bisa mencapai Rp 20 miliar, atau bahkan Rp 5 miliar saja menjadi Rp 300 triliun, kita hanya perlu 200.000 Bitcoin,” jelasnya.

Namun, Leong juga mengakui bahwa pendekatan ini tidak sepenuhnya bebas risiko. Ia membandingkan potensi Bitcoin dengan sejarah Amerika Serikat, yang berhasil mengumpulkan jumlah Bitcoin terbesar di dunia. “Kalau kita melihat sejarah, Amerika sudah hampir menjadi negara dengan jumlah Bitcoin terbesar. Kita bisa belajar dari mereka,” tambahnya. Usulan ini menunjukkan antusiasme industri kripto di Indonesia terhadap pengembangan ekosistem keuangan digital.

Di sisi lain, Gabriel Rey, Founder dan CEO Triv, menyambut baik usulan Danantara untuk membentuk cadangan strategis Bitcoin. Menurutnya, Bitcoin dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan rupiah dalam jangka panjang. “Bitcoin bisa menjadi salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan rupiah yang selama ini mengalami penurunan,” ungkap Rey. Ia juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam memperhatikan potensi aset digital domestik.

Rey menambahkan bahwa Bitcoin telah terbukti menjadi salah satu aset yang mampu memberikan keuntungan signifikan dalam jangka panjang. “Jika kita melihat data historis, Bitcoin memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar,” katanya. Namun, ia juga menekankan bahwa langkah ini harus dilakukan dengan strategi yang matang agar tidak menimbulkan risiko yang lebih besar bagi ekonomi nasional.

Usulan ini tentu saja memicu beragam tanggapan. Sebagian kalangan menilai langkah ini sebagai terobosan inovatif yang dapat memperkuat posisi Indonesia di pasar keuangan global. Namun, ada pula yang mengkhawatirkan volatilitas Bitcoin yang tinggi dan potensi risiko finansial yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi nasional jika tidak dikelola dengan baik.

Sebagai langkah awal, OJK dan Danantara berencana untuk melakukan kajian mendalam terkait implementasi cadangan strategis Bitcoin. “Kami sangat menghargai adanya usulan yang tampaknya cukup inovatif, tetapi kami juga harus memastikan bahwa langkah ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi perekonomian Indonesia,” tutup Fawzi. Langkah ini akan menjadi sorotan utama dalam perkembangan kebijakan keuangan digital di Indonesia ke depannya.

Kontributor Ty


Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *