Kejadian

Data Korban Terbaru Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera

Spread the love

LINTAS1AGUPENA.ORG – Jakarta, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru terkait bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Pulau Sumatera sejak akhir November lalu. Hingga pukul 17:38 WIB hari ini 1 Desember 2025. Jumlah korban jiwa tercatat mencapai 593 orang, dengan 468 warga masih dinyatakan hilang akibat bencana hidrometeorologi dahsyat ini.

Angka tersebut merupakan akumulasi dari tiga provinsi utama yang terdampak parah, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, di mana curah hujan ekstrem dipicu oleh siklon tropis Senyar dan bibit siklon 95B telah merenggut nyawa ratusan warga serta merusak infrastruktur secara luas.

Bencana ini bermula sejak 24 November 2025, dengan intensitas puncak pada 26-28 November, yang menyebabkan banjir bandang menerjang 46 kabupaten/kota di tiga provinsi tersebut.

Di Sumatera Utara, provinsi dengan korban terbanyak, tercatat 272 jiwa meninggal dunia dan 173 orang hilang, terutama di wilayah Tapanuli Selatan dan Tengah yang mengalami longsor masif.

Sementara di Sumatera Barat, angka korban jiwa mencapai 165 orang dengan 114 hilang, di mana Kabupaten Agam menjadi pusat bencana dengan 74 kematian.

Aceh juga tak luput, dengan 156 korban tewas dan 181 hilang, terfokus di 11 kabupaten seperti Nagan Raya dan Pidie Jaya, di mana jembatan dan rumah warga hanyut terbawa arus.

Selain korban jiwa, dampak bencana semakin memprihatinkan dengan sekitar 2.600 warga mengalami luka-luka dan lebih dari 1,5 juta orang terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara, sementara total 579 ribu orang terdampak secara keseluruhan.

Infrastruktur vital seperti jalan lintas provinsi, jembatan Gunung Nago di Padang, dan bendungan di berbagai daerah mengalami kerusakan berat, memutus akses transportasi antar desa dan kota. BNPB mencatat total 166 kejadian longsor dan 315 banjir di Sumatera Utara saja, sementara di Aceh, 3.500 rumah rusak berat dan 271 jembatan hancur.

Saat ini upaya pencarian dan evakuasi masih berlangsung, dengan tim SAR gabungan TNI, Polri, dan Basarnas dikerahkan secara maksimal.

Pemerintah pusat di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan bantuan darurat melalui empat pesawat Hercules dan A400, berisi tenda, makanan siap saji, tim medis, serta peralatan berat untuk pemulihan.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menyatakan bahwa evaluasi status darurat nasional sedang dilakukan untuk mempercepat alokasi anggaran rekonstruksi. Gubernur Sumatera Utara dan Sumatera Barat juga menetapkan status darurat bencana selama 14 hari, sementara Aceh telah melakukannya sejak 28 November.

Prabowo menekankan pentingnya pelestarian lingkungan, menyinggung pembabatan hutan sebagai salah satu pemicu utama longsor, dan memastikan semua rumah rusak akan diganti melalui skema Dana Bantuan Rumah (DBR).

Upaya penanganan bencana ini melibatkan lebih dari 3.500 personel Polri dan ribuan relawan, dengan tagar #PrayForSumatera yang menjadi trending di media sosial sebagai bentuk solidaritas nasional.

Meski cuaca mulai mereda, BNPB mengimbau masyarakat di wilayah rawan untuk tetap waspada terhadap potensi hujan deras lanjutan. Dashboard Penanganan Darurat BNPB terus diperbarui secara real-time, dan pemerintah berjanji mempercepat rehabilitasi infrastruktur agar warga dapat kembali normal secepat mungkin. Doa dan dukungan untuk korban terus mengalir, di tengah duka yang menyelimuti keluarga-keluarga di Sumatera.

Kontributor Ty


Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *