Narasi

Setelah Ngeles Tingkat Dewa, Akhirnya Nadiem Makarim JadiTersangka

Spread the love

Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)

“Sesuai aplikasi ya, Pak” Ungkapan
terkenal saat Nadiem Makarim dilantik jadi Mendikbud oleh Jokowi. Itu dulu. Sekarang, “Sesuai pasal korupsi ya, Pak!” Mari kita lindas, eh salah, kupas penetapan Nadiem sebagai tersangka dugaan korupsi sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Di negeri yang katanya gemah ripah loh
jinawi tapi WC sekolah masih bau anyir,
lahirlah kisah tentang laptop. Bukan laptop recehan, melainkan Chromebook sakti yang nilainya cukup bikin seluruh guru honorer bisa gajian full setahun sambil bonus jalan-jalan ke Manisa Turki, Rp99 triliun versi laporan yang beredar.

Tokoh utama kita, Nadiem Anwar Makarim, bukan orang sembarangan. Lulusan Brown University jurusan Hubungan Internasional, lanjut MBA Harvard Business School. Bekal pendidikan yang bikin orang kampung mengira dia bakal jadi “Iron Man” pendidikan Indonesia. Memang, mula-mula ia tampil gagas. Dengan wajah teduh ala CEO, ia bilang, “Tidak ada korupsi di sini! Saya tidak pernah menoleransi korupsi!”

Kata-katanya bergetar seperti khutbah
Jumat, meski di ruang guru ditanggapi
satir, “Laptop ada, colokan listrik tak
ada. Akhirnya jadi tatakan gelas.” Bahkan
ia pamerkan angka, 97% Chromebook
sudah terkirim ke 77 ribu sekolah. Entah
benar-benar terkirim, atau cuma singgah di gudang kelurahan.

Tapi drama negeri ini memang doyan twist. Setelah diperiksa 12 jam pada 23 Juni 2025, 9 jam pada 15 Juli, dan terakhir disanggrai Kejagung pada 4 September 2025, Nadiem pun naik level, dari “saksi penceramah” jadi tersangka NAM. Semua orang tahu siapa “NAM” itu, kecuali kucing oranye di teras yang lebih sibuk tidur.

Lebih flamboyan lagi, ia datang didampingi Hotman Paris Hutapea. Dengan jas biru-silver berkilau, Hotman tampak seperti Thanos hukum, siap menjentikkan jari dengan KUHP di genggaman. Media pun sorak-sorai, negeri ini memang selalu berhasil menghibur rakyatnya, bahkan di tengah skandal.

Sementara itu, Indonesia Corruption Watch (ICW) tak tinggal diam. Mereka menemukan kejanggalan sejak awal, proyek ini dianggap tidak mendesak, melanggar Perpres 123/2020, dan bahkan tak tercatat di SIRUP (jangan bayangkan sirup marjan, ini Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaaan). Singkatnya, manis di atas kertas, pahit di lapangan.

Di warung kopi sekolah, para guru honorer menggelar filsafat ala kadarnya. “Korupsi itu seperti Chromebook tanpa charger,” kata guru matematika. “Nampak canggih, tapi tak bisa dipakai.” Guru sejarah menimpali, “Korupsi adalah seni membuai sejarah tanpa peninggalan.” Semua tertawa getir sambil menyeruput kopi sachet yang airnya setengah panas setengah hujan.

Di situ para guru sadar, ternyata gelar
Harvard tak kebal dari jebakan mark-up
lokal. Pendidikan kelas dunia bisa ambruk
oleh kabel kusut birokrasi. Yang tersisa
hanyalah ironi, siswa belajar integritas di
kelas, sementara elit belajar ngeles tingkat
dewa di ruang pemeriksaan.

Akhirnya, laptop yang harusnya jadi
jembatan digitalisasi berubah jadi panggung opera korupsi nasional. Dari startup founder, jadi menteri, kini jadi tersangka. Dari Chromebook, jadi Chrome-bobrok. Dari pendidikan, jadi tontonan.

Negeri pun paham satu hal, korupsi itu
bukan sekadar tindakan, tapi filsafat
kehidupan. Menular seperti WiFi gratis,
sinyalnya kuat, tapi password keadilannya
tak pernah dibagikan.

Kasus ini mengajarkan bahwa settinggi
apa pun pendidikan dan secanggih apa
pun gelar yang dimiliki, bila integritas
dikesampingkan, semuanya runtuh tak
berharga. Sebaliknya, guru-guru sederhana yang tetap jujur, sabar, dan tulus mendidik anak bangsa justru memberi teladan sejati, bahwa kejujuran adalah modal utama membangun masa depan yang lebih terang daripada sekadar mengejar pencitraan dan kekuasaan.

Redaksi


Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *