BNPB Kerahkan Alat Berat, Nasib 59 Santri yang Masih Tertimbun, Masihkah Ada Tanda Kehidupan?
LINTAS1AGUPENA.ORG – Sidoarjo, Tragedi ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus menjadi perhatian nasional sejak kejadian terjadi pada akhir September lalu.
Sebanyak 59 santri diduga masih terjebak di bawah puing-puing gedung yang runtuh secara tiba-tiba, sementara upaya pencarian dan penyelamatan (SAR) memasuki hari keempat dengan tantangan semakin berat. Korban jiwa yang telah dikonfirmasi mencapai lima orang, sementara 103 santri lainnya berhasil dievakuasi dan kini dirawat di berbagai rumah sakit setempat.
Nasib 59 santri yang masih tertimbun menjadi prioritas utama tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, serta relawan lokal. Hingga Jumat pagi (3/10) tanda-tanda kehidupan seolah tidak terlihat lagi oleh alat-alat canggih milik BNPB.
Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kondisi bangunan yang runtuh dengan pola “pancake collapse” menyulitkan proses evakuasi manual, di mana puing-puing bertumpuk seperti lapisan kue yang rapuh.
Hingga saat ini, lima korban jiwa telah ditemukan meninggal dunia, sementara lima lainnya dievakuasi dalam kondisi hidup meski mengalami luka-luka serius.
Untuk mempercepat proses, BNPB akhirnya mengerahkan alat berat seperti ekskavator dan buldoser ke lokasi kejadian pada Kamis (2/10) pagi. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan “golden hour” yang hampir usai, meskipun berisiko tinggi karena potensi longsor sekunder di reruntuhan.
Tim SAR kini mulai membongkar puing-puing secara bertahap, dengan harapan dapat menjangkau area yang sebelumnya sulit diakses oleh tangan kosong. Wali santri yang menunggu di sekitar lokasi menyatakan ikhlas dengan langkah ini, meski hati mereka dipenuhi doa untuk keselamatan anak-anak mereka.
Tantangan utama dalam operasi ini adalah kestabilan struktur bangunan yang tersisa, di mana penggunaan alat berat harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari korban tambahan.
BNPB menyatakan bahwa hingga Rabu malam lalu (1/10), total 102 jiwa telah dievakuasi, termasuk 91 yang lolos melalui evakuasi mandiri.
Pemerintah daerah Sidoarjo juga telah menyiagakan tim medis dan psikolog untuk mendampingi keluarga korban, sementara penyelidikan penyebab ambruknya bangunan sedang dilakukan oleh tim ahli struktural.
Harapan masih terjaga di antara petugas SAR dan masyarakat, yang terus berdoa agar 59 santri tersebut ditemukan dalam kondisi selamat.
Operasi evakuasi diperkirakan akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan, dengan BNPB berjanji memberikan update secara berkala.
Ty

