Ekonomi

Rupiah Anjlok Pasca Reshuffle Prabowo, Saham Milik Investor AS di Indonesia Ikut Tertekan

Spread the love

LINTAS1AGUPENA.ORG – Jakarta, Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS anjlok tajam pasca pengumuman reshuffle kabinet oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 8 September 2025. Reshuffle yang mengganti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan Purbaya Yudhi Sadewa memicu ketidakpastian di pasar keuangan, menyebabkan rupiah ditutup pada level Rp16.320 per USD, melemah 11 poin dari penutupan sebelumnya di Rp16.309. Pelemahan ini juga berdampak pada saham-saham di Indonesia yang dimiliki investor Amerika, terutama di sektor perbankan dan energi.

Reshuffle kabinet melibatkan penggantian lima menteri dan penambahan satu posisi baru, termasuk Menko Polhukam, Menteri Pemuda dan Olahraga, Menteri Koperasi, serta Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Penggantian Sri Mulyani menjadi sorotan utama karena reputasinya sebagai penjaga stabilitas fiskal. Pasar merespons negatif, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,28% ke level 7.766. Investor asing, termasuk dari Amerika, melakukan aksi jual bersih senilai Rp1,92 triliun di pasar saham pada hari yang sama, memperburuk tekanan pada rupiah dan saham.

Saham-saham di Indonesia dengan kepemilikan signifikan oleh investor Amerika, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), mengalami penurunan. BBCA, yang memiliki porsi kepemilikan asing termasuk dari investor Amerika, turun 2,5% ke Rp10.150 per saham, sementara BBRI anjlok 3,1% ke Rp4.800. Selain itu, saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), yang juga menarik minat investor Amerika, merosot 2,8% ke Rp3.120. Data menunjukkan bahwa investor asing, termasuk dari AS, melakukan net sell Rp136,7 miliar pada saham BBCA dan Rp127,6 miliar pada BBRI pada minggu sebelumnya, tren yang diperkirakan berlanjut pasca reshuffle.

Ketidakpastian atas kebijakan ekonomi baru di bawah Menteri Keuangan baru memicu kekhawatiran akan kontinuitas reformasi fiskal, yang selama ini menjadi daya tarik bagi investor asing, termasuk Amerika. Faktor eksternal seperti kebijakan tarif AS di era Trump dan ketegangan geopolitik turut memperparah tekanan pada pasar. Meski cadangan devisa Bank Indonesia masih kuat di US$150,7 miliar untuk mendukung intervensi, sentimen negatif terhadap saham-saham blue-chip yang dimiliki investor Amerika menunjukkan ketidakpercayaan pasar jangka pendek.

Ke depan, pelaku pasar menantikan sinyal jelas dari pemerintah terkait arah kebijakan ekonomi untuk meredam gejolak. Bank Indonesia diperkirakan akan memperkuat intervensi di pasar valas dan obligasi untuk menstabilkan rupiah. Namun, jika ketidakpastian berlanjut, saham-saham dengan kepemilikan asing signifikan, termasuk dari Amerika, seperti BBCA, BBRI, dan ADRO, berisiko menghadapi tekanan jual lebih lanjut, dengan potensi capital outflow yang dapat memperlemah IHSG hingga akhir kuartal.

Ty


Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *