Bursa Kripto Terbesar Iran, Nobitex, Diretas Hacker Pro-Israel, Rp777 Miliar Raib
LINTAS1AGUPENA.ORG – Teheran, Bursa kripto terbesar di Iran, Nobitex, menjadi sasaran serangan siber besar-besaran yang diduga dilakukan oleh kelompok hacker pro-Israel, Gonjeshke Darande (Predatory Sparrow). Dalam serangan yang terjadi dalam dua hari ini, aset digital senilai lebih dari Rp777 miliar (sekitar $90 juta) berhasil dicuri dari dompet panas (hot wallet) Nobitex. Serangan ini tidak hanya menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga meningkatkan ketegangan siber antara Iran dan Israel di tengah konflik geopolitik yang sedang memanas.
Menurut laporan dari firma analisis blockchain seperti Elliptic dan Chainalysis (23/06), dana yang dicuri terdiri dari berbagai mata uang kripto, termasuk Bitcoin, Ethereum, Dogecoin, dan Tron. Uniknya, hacker tidak memindahkan dana tersebut ke dompet pribadi untuk keuntungan finansial, melainkan ke “vanity address” dengan pesan anti-rezim Iran, seperti “FuckIRGCTerroristsNoBiTEX.” Alamat-alamat ini dirancang sedemikian rupa sehingga dana tersebut tidak dapat diakses kembali, menunjukkan bahwa serangan ini lebih bermotif politik daripada finansial, dengan tujuan merusak infrastruktur keuangan digital Iran.
Nobitex sendiri mengklaim memiliki lebih dari 10 juta pengguna, langsung menangguhkan operasional situs web dan aplikasinya setelah mendeteksi akses tidak sah pada infrastruktur pelaporan dan dompet panas mereka. Dalam pernyataan resmi di platform X, Nobitex menyatakan bahwa dana di dompet dingin (cold storage) tetap aman dan berjanji untuk mengganti kerugian pengguna melalui dana cadangan dan asuransi mereka. Namun, serangan ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pengguna, terutama karena Nobitex dikaitkan dengan upaya pemerintah Iran untuk menghindari sanksi internasional.
Kelompok hacker Gonjeshke Darande, yang sebelumnya juga mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap Bank Sepah milik negara Iran, mengklaim bahwa Nobitex digunakan untuk mendanai terorisme dan melanggar sanksi internasional. Mereka mengancam akan merilis kode sumber dan data internal Nobitex dalam waktu 24 jam, yang dapat memperburuk situasi bagi platform tersebut. Serangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik militer antara Israel dan Iran, termasuk serangan rudal baru-baru ini, yang semakin memperumit situasi keamanan siber di kawasan tersebut.
Dampak serangan ini tidak hanya terbatas pada Nobitex, tetapi juga menyoroti kerentanan infrastruktur kripto di negara-negara yang terkena sanksi. Analis keamanan siber memperingatkan bahwa serangan semacam ini dapat menjadi preseden baru dalam perang siber geopolitik, di mana aset digital menjadi sasaran utama untuk melemahkan ekonomi lawan. Sementara Nobitex berupaya memulihkan kepercayaan pengguna, komunitas kripto global kini mengamati perkembangan lebih lanjut, dengan pertanyaan besar seputar keamanan bursa kripto dan implikasinya terhadap stabilitas pasar digital di Timur Tengah.
Kontributor: Ty

