Refleksi Paskah, “Dekonstruksi Superioritas dan Rekonstruksi Kemanusiaan dalam Terang Kebangkitan”
LINTAS1AGUPENA.ORG – Makale 20 April 2025, Paskah di tengah krisis peradaban yang diperingati tahun 2025 ini apakah akan masih sama ataukah membawa dimenasi perubahan yang baru pada mereka yang memaknainya? Paskah sering kali direduksi menjadi ritual tahunan yang mengukuhkan identitas Kristen sebagai komunitas eksklusif, namun melupakan esensi revolusionernya yang seharusnya meruntuhkan tembok-teman pemisah. Refleksi ini ingin menggali Paskah itu sebagai momentum untuk mengkritik kecenderungan umat Kristen yang merasa unggul secara spiritual, sekaligus menawarkan visi alternatif tentang iman yang inklusif, relevan dengan tantangan teknologi, dan berakar pada makna kebangkitan Kristus.

Dekonstruksi kekristenan adalah upaya untuk menelusuri kembali kematian Kristus sebagai Kritik terhadap klaim Kebenaran Eksklusif. Kematian Yesus di kayu salib justru terjadi karena penolakan otoritas agama yang merasa paling benar. Dalam Matius 23:13-15, Yesus mengutuk ahli-ahli Taurat dan orang Farisi yang “menutup pintu Kerajaan Sorga di depan orang” sementara mereka sendiri tidak masuk. Klaim superioritas sering terjadi bagi mereka yang merasa paling memaknai Paskah itu, namun melupakan esensi dan rohnya.
Kebangkitan yang dipandang inklusif telah melampaui natas-batas komunal. Pada Kisah Para Rasul 10:34-35 ditegaskan bahwa “Allah tidak membedakan orang” dan bahwa “setiap orang dari bangsa mana pun yang takut kepada-Nya dan mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” Kebangkitan Kristus adalah untuk seluruh umat manusia, bukan hanya kelompok tertentu. Ini harus mendorong orang-orang Kristen untuk meninggalkan mentalitas “kita vs mereka” yang masih mengakar di banyak komunitas Kristen sebagai mindset dan keyakinan palsu.
Perlu dipahami bahwa dekonstruksi mengajak orang-orang Kristen untuk tidak terjebak dalam formalisme pelayanan. Dalam Yesaya 58:6-7 dijelaskan bahwa puasa (ibadah) yang benar adalah “melepaskan belenggu-belenggu kelaliman” dan “memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar.” Paskah harus menjadi momentum evaluasi apakah pelayanan kita telah terjebak dalam formalisme liturgis sementara mengabaikan keadilan sosial dan kebutuhan yang bersifat spiritualitas lainnya.
Ada yang mengatakan teknologi sebagai Bentuk ‘Maut’ Modern yang secara perlahan menghilangkan Tuhan dalam diri manusia. Ini disebut sebagai gesekan teknologi dan kemanusiaan yang rapuh. Dalam Pengkhotbah 3:20 diingatkan bahwa manusia “kembali kepada debu.” Di era digital, manusia justru semakin terfragmentasi—secara fisik hadir tetapi secara emosional absen. Paskah sejatinya mendorong orang-orang Kristen untuk merenungkan bagaimana teknologi sering kali menjadi alat dehumanisasi baru, membuat kita lupa akan kerapuhan esensial kita sebagai manusia, dan meragukan KeMahakuasaan Tuhan.
Melalui karya penyelamatan Kristus, kebangkitan dapat menjadi Jawaban atas Alienasi Digital. Dalam Roma 12:2 diserukan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Dalam konteks ini, Paskah menawarkan pembebasan dari belenggu teknologi yang mengalienasi—mengajak kita untuk menemukan kembali relasi autentik antarmanusia, hubungan yang mendalam dengan Tuhan.
Kebangkitan Kristus pun telah melampaui batas budaya dan keterasingan dunia terhadap Tuhan. Kunjungan Yesus ke bangsa Samaria (Yohanes 4) dan penerimaan-Nya terhadap orang-orang yang dianggap “kafir” menunjukkan bahwa pelayanan sejati harus melintasi batas-batas kultural. Kebangkitan-Nya adalah untuk semua bangsa, seperti tertulis dalam Matius 28:19: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku”. Ayat tersebut menyiratkan bahwa pelayanan yang pluralis bukan sebagai batasan melainkan misi, dan apakah misi itu telah dilakukan dengan sepenuh hati.
Paskah harus mendorong gereja untuk berdiri di pihak kaum marginal, bukan sekadar menjadi bagian dari establishment religius. Hal itu dibuktikan oleh Yesus yang sangat solid dengan mereka yang tertindas. Seperti dikatakan dalam 1 Korintus 1:27-28 bahwa Allah memilih “yang bodoh di dunia untuk memalukan orang-orang yang berhikmat” dan “yang lemah untuk memalukan yang kuat.” Ini bukan sekedar peringatan tetapi ajakan bagi semua orang untuk berbagi karya penyelamatan.
Kebangkitan Yesus atas maut telah memporak-porandakan Alam Maut. Dalam 1 Korintus 15:54-55 menubuatkan kemenangan final: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Paskah adalah pengingat bahwa kuasa-kuasa kegelapan—termasuk sistem-sistem opresif—telah dikalahkan. Maut itu kini telah bertransformasi menjadi kebiasaan-kebiasaan baru seperti merasa puas dalam pelayanan, menganggap remeh pelayanan, memandang orang lain dalam batasan sempit, hingga perilaku-perilaku hedonis dan menodai hubungan spesial antara Allah dengan manusia.
Hal lain bahwa kebangkitan Yesus melahirkan spiritualitas perlawanan terhadap Iblis dan pengikutnya. Dalam Wahyu 12:11 digambarkan orang-orang yang “mengalahkan dia (iblis) oleh darah Anak Domba.” Ini bukan spiritualitas pasif, melainkan seruan untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dengan semangat kebangkitan. Ketidakadilan, kecurangan, yang dilakukan oleh manusia, begitupun pemimpin-pemimpin dunia yang menyimpang dari kebenaran dan keadilan harus dilawan karena bukankah perilaku mereka adalah sifat-sifat kuasa kegelapan?
Dekonstruksi superioritas dan rekonstruksi kemanusiaan dalam terang kebangkitan adalah revolusi kesadaran dan pembanguna mindset yang selaras dengan amanat kebangkitan Yesus. Paskah sejatinya memerdekakan manusia dari superioritas spiritual yang eksklusif, keterjebakan dalam teknologi yang terdehumanisasi, pelayanan yang mengabaikan pluralitas, dan ketakutan akan kuasa-kuasa kegelapan. Seperti kata Rasul Paulus dalam Filipi 3:10, tujuan kita adalah “mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya.” Sehingga paskah yang diperingati tahun ini sudah seharusnya bertransformasi untuk menggerakkan kekristenan dari zona nyaman ke medan pelayanan yang inklusif, relevan, dan berani.
Penulis: Sumartoyo, Sekretaris PKP Klasis Makale

