Pendidikan

Pendekatan Pembelajaran “Lompatan Waktu” Tantang Pikiran Anak Berkembang di Zona C7 dan C8

Spread the love

Sumartoyo, S.Pd., M.Si.
(Ketua Bidang Pendidikan, Kebudayaan, dan Pariwisata MPC PP Tana Toraja)

Karakteristik murid usia remaja menyimpan segudang potensi. Pada usia 12 – 15 tahun, seorang remaja mampu mereduksi kemampuan berpikirnya untuk menghasilkan penalaran, rasionalitas, kemampuan berpikir abstrak, dan imajinasi. Kemampuan tersebut tersimpan secara alamiah, perkembangannya dipicu oleh faktor internal, lingkungan, adopsi dan adaptasi, mengalami berbagai perlakuan yang bersifat kronik atau stimulus biasa. Namun, pada kasus-kasus tertentu yang unik dan tanpa ada campur tangan apa dan siapapun, beberapa anak terlahir superior dengan empat kemampuan di atas.

Dalam hal berpikir, kemampuan otak anak usia remaja dalam menyimpan dan mengambil informasi sangat dipengaruhi oleh hipokampus. Hipokampus adalah bagian dari sistim limbik yang terletak di dalam lobus temporal otak yang berperan penting dalam mengingat informasi dan menghubungkan emosi ke dalam ingatan tersebut. Sebagai pengendali reaksi emosional, hipokampus bekerja secara simultan untuk mengenali objek, mengorganisasi memori, mengolah data, serta menghasilkan bahasa.

Murid UPT SMPN Satap 2 Bittuang Mempresentasikan Kemampuan Menulis Teks Eksplanasi

Sebagai bagian penting dari jaringan sistim berpikir yang kompleks, hipokampus memegang peranan penting untuk menguatkan dan mempertahankan memori pada berbagai fungsi dan peruntukan. Efektifitas dan kepasitasnya akan sia-sia, jika daya pegas hipokampus ini tidak dilatih dengan menghadirkan konteks latihan berpikir yang berbeda, yang menghubungkan memori spasial dengan space kognitif dan dengan objek sosial. Trip yang berbeda ini boleh dikatakan sebagai alternatif baru dalam melatih berbagai tingkatan dan lompatan berpikir yang berdampak positif pada kreativitas dan inovasi anak di masa depan.

Salah satu yang penulis tawarkan melalui jendela opini kali ini adalah pendekatan belajar “Lompatan Waktu”. Pendekatan ini merupakan treatmetodologi baru yang dikembangkan melalui pemahaman taksonomi Bloom dalam hal mencipta dan mengaktualisasikan atau sering dikenal sebagai komponen pertanyaan C7 dan C8. Lompatan waktu adalah kemampuan anak untuk menelusuri kembali memorinya, mengambil dan mengorganisasikan pengetahuan lama dan yang baru (LIHAT), memasak informasi tersebut (PIKIR) dan hasilkan produk belajar yang baru atau inovatif (LOMPAT).

Tiga istilah penting pada pendekatan pembelajaran “Lompatan Waktu” adalah LIHAT, PIKIR, dan LOMPAT. LIHAT misalnya mengamati situasi atau objek dengan detail, PIKIR misalnya membayangkan satu atau lebih perubahan yang mungkin terjadi, dan LOMPAT misalnya membuat atau merekayasa prediksi atau kreasi untuk menjadi sesuatu di masa depan.

Contoh penerapannya, “Hari ini kita akan melakukan Lihat-Pikir-Lompat tentang kata ‘telepon selular’. Lihat bagaimana orang menggunakan telepon sekarang, pikirkan perubahannya, dan lompatkan imajinasimu 20 tahun ke depan.” Perintah tersebut dapat dimodifikasi sesuai tema, misalnya untuk kosakata: “Lihat kata ini – Pikir maknanya – Lompat ke penggunaan barunya”, dibawa ke sastra misalnya: “Lihat cerita ini – Pikir pesannya – Lompat ke versi moderennya”.

Agar pembelajaran lebih bermakna masukkan semua informasi primer dan sekunder yang didapatkan anak. Informasi primer merupakan informasi yang diperoleh anak secara langsung dari sumbernya. Sebagai contoh, Era atau Waktu: masa lalu (sejarah bahasa), masa kini (penggunaan aktual), dan masa depan (prediksi perubahan). Contoh lain, perkembangan teknologi: media komunikasi berkembang menjadi platform digital dan terjadi inovasi bahasa. Sedangkan informasi sekunder adalah informasi tambahan yang didapatkan melalui dokumentasi tambahan, hasil diskusi, lintasan pengetahuan, dan informasi yang didapatkan tanpa disengaja. Contoh informasi sekunder, faktor sosial: trend pergaulan remaja, media sosial, budaya pop; Pengaruh global: bahasa asing, fenomena internet, dan gaya komunikasi internasional.

Semua informasi yang sudah dimasak dikreasikan melalui C7 dan C8 agar konsep LOMPAT terlihat berpindah atau menghasilkan hal yang baru dan berbeda. Sedikitnya pada tataran ini ada 5 bentuk lompatan, yaitu:

1. Lompatan Tekstual

    • Dari kata biasa menjadi kata kiasan.
    • Dari makna denotatif menjadi makna konotatif.
    • Dari bahasa baku menjadi non baku.
      Contoh: “Hujan” – “Tangisan Langit” – “Curahan Kesedihan Semesta”

    2. Lompatan Temporal

      • Dari masa lampau menjadi masa kini dan menjadi masa depan.
      • Dari tradisional menjadi modern dan menjadi futuristic.
        Contoh: “Surat” – “Email” – “Hologram Pikiran”

      3. Lompatan Kontekstual

        • Dari formal menjadi informal dan menjadi slang.
        • Dari lokal menjadi nasional dan menjadi global.
          Contoh: “Mohon maaf” – “Sorry” – “Error 404: Ego Not Found”

        4. Lompatan Struktural

          • Dari kalimat sederhana menjadi kompleks dan menjadi multimedia.
          • Dari tulisan menjadi visual dan menjadi interaktif.
            Contoh: “Saya sedih” – “Kesedihan ini menghujam relung hati” – “emotion/gift/ sound effect dan background music.

          5. Lompatan Fungsional

            • Dari informasi menjadi kreasi dan menjadi inovasi.
            • Dari deskripsi menjadi narasi dan menjadi transformasi.
              Contoh: “Pohon tinggi” – “Pohon menjulang menembus awan” – “Pohon organic penghasil listrik di masa depan”. Pendekatan pembelajaran “Lompatan Waktu” ini tergolong pendekatan yang tidak mudah dipraktikkan murid, mengingat perlu adanya penguasaan konsep dasar dan pengetahuan pendukung, pemilikan bank kosakata, serta latihan dan keterampilan dasar menyusun ide/gagasan maupun kerangka. Namun jika guru ingin mempercepat prosesnya, guru dapat membuat peta pikiran atau peta konsep dan tabel penunjuk lompatan.

            Pengembangan pendekatan pembelajaran “Lompatan Waktu” berdampak pada peningkatan berpikir murid. Hal itu rasional karena 80% cara ini dapat dipraktikkan murid dalam berbagai konteks belajar, bahkan jika itu dilakukan di rumahnya atau di lingkungan bermain. Dalam mapel IPS dan Sains pendekatan ini selaras dengan seluruh aspek belajar murid karena hasil yang maksimal ada di outcome C8.

            Selanjutnya bahwa pendekatan ini fleksibel untuk dimixer dengan berbagai pendekatan belajar yang membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau kritis. Spektrumnya bahwa ada hasil yang berbeda dan signifikan karena murid didorong secara kritis untuk mencapai produk belajar yang baru sebagai akibat dari aktualisasi berpikir. Penulis berharap pendekatan pembelajaran “Lompatan Waktu” ini dapat menjadi koleksi pengajaran guru-guru lintas mapel yang rindu melakukan inovasi belajar di kelas.

            Editor: Hajar Aswad


            Spread the love

            Tinggalkan Balasan

            Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *