Opini
Pageso’ – Geso’ Bo’ne Kec. Malimbong BalepeAntara Inkulturasi atau Degradasi PewarisanPeluang dan Revitalisasi (Oleh Sumartoyo, S.Pd., M.Si.)Geso’-geso’
adalah alat musik gesek berdawai yang bentuknya dibuat ramping dan dimainkan dalam posisi tegak. Alat musik ini terbuat dari kayu suren yang sifatnya ringan dan tempurung kelapa yang diberi dawai dari kawat. Dawai geso’-geso’ hanya satu, orang Toraja menyebut dawai itu sebagai riti. Adapun dawai digesek dengan alat khusus yang terbuat dari lengkungan bilah bambu pattung dan talinya berasal dari ijuk pohon enau sehingga saat dimainkan akan menimbulkan suara yang khas. Bahkan oleh orang-orang Toraja pada jaman dahulu menggunakan getah pohon damar sebagai pelumas, agar saat dawai digesek menimbulkan suara yang nyaring dan beraura.
Dalam budaya orang Malimbong, Geso’-geso’ Malimbong sering digunakan untuk mengiringi berbagai pesta adat termasuk syukuran gereja. Pada acara-acara ritual aluk parandangan ada’, geso’-geso’ digunakan untuk menyempurnakan ritual karena mengandung puji-pujian kepada sang dewata, misalnya pada prosesi acara Ma’puang yang juga merupakan asal lahirnya alat musik tersebut, geso’-geso’ dimainkan saat puncak acara berlangsung. Saat mendengarkan alunan nada dari gesekan dawai maka nuansa damai dan lembut seolah-olah mengiringi suasana hati untuk menjelajahi rangkaian kisah di balik gesekan dawai.
Geso’-geso’ Malimbong menghadirkan entitas masa lalu, rekam jejak dari hiruk pikuknya kosmopolitan masa lalu orang Toraja, energi yang tersisa dari masa lalu yang menjelma menjadi nada, dan tradisi yang melahirkan generalisasi tentang hubungan manusia dengan Penciptanya, manusia dengan alam semesta, dan manusia terhadap manusia yang lain melengkapi kausalitas lahirnya alunan nada itu.
Tetapi, nada-nada yang dahulu sarat tergiang kini mulai pudar seiring berkembangnya peradaban. Keberadaan kelompok pemusik Geso’-Geso’ Malimbong – Bone semakin berkurang. Percakapan terakhir penulis setahun yang lalu dengan beberapa penggiatnya di Lembang Bo’ne Kec. Malimbong Balepe mengungkapkan bahwa rantai regenerasi seolah-olah mau putus.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kurang berkembangnya rutinitas kelompok ini yaitu: lemahnya daya minat, kesibukan anggotanya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehingga banyak yang harus pergi merantau, keterbatasan dana pengembangan dan pelestarian, intensitas event kedaerahan yang kurang memunculkan tradisi ini secara meluas, entah kenapa tidak dimasukkannya kegiatan tersebut dalam muatan lokal di sekolah-sekolah yang ada di gugus Kec. Malimbong Balepe, masih lemahnya keberpihakan Dinas Pariwisata untuk mewujudkan musik tradisional Toraja sebagai peluang bisnis dalam industri pariwisata, geso’-geso’ Malimbong hanya dianggap sebagai hiburan semata, dan tidak adanya keterlibatan unsur kelembagaan yang mewadahi mereka untuk berkembang, menjadikan keberadaan kelompok-kelompok ini makin tergerus.
Sebagai produk budaya, geso’ – geso’ pula memiliki peran sosial yang bekerja secara kolektif. Di luar fungsi utamanya sebagai hiburan, geso’ – geso’ menyatukan kemajemukan dan ragam persepsi yang dalam kehidupan nyata saling bersinggungan dan bergesekan, serta hiruk pikuknya kehidupan yang terkadang menjauhkan manusia dari istirahatnya yang damai, jauh dari suasana khusuk dan senda gurau.
Geso’ – geso’ menyingkap aura jenuh masyarakat yang terjebak dalam birokrasi kehidupan, benang merah untuk mengikat silahturahmi tanpa memandang pada stratifikasi, kolegasi, dan perekat kembalinya para insan Illahi ke dalam perenungan religius yang panjang. Bila dapat dimetaforakan, geso’ – geso’ adalah musikalisasi kehidupan, tempat para pelantun dan pendengarnya mengoreksi perilaku, refleksi kehidupan. Ironis, jika di balik inkulturasinya terdapat jurang degradasi yang mengancam riwayat pelestariannya. Nilai-nilai inkulturasi yang umumnya diwujudkan dalam praktik adat seharusnya juga diterapkan dalam berbagai aktivitas seni sebagai manifestasi dari buah kesadaran tentang pentingnya mempertahankan tradisi ini sebagai kebiasaan sekaligus sebagai media edukasi pewarisan tradisi lokal. Tradisi bermain geso’-geso’ harus dilihat sebagai pewarnaan nilai-nilai kehidupan.
Totalitas yang ada padanya terpusat pada peran individu dalam kelompok (geso’-geso’ lebih bermakna dimainkan secara bersama-sama) – geso’-geso’ sendiri sebagai alat atau media – dan komposisi nada yang dihasilkan dipandang sebagai kesatuan fungsi dengan masing-masing fungsi terletak pada tiap-tiap unsur. Peran manusia adalah menjiwai (to animate), memainkan (to do) dan mengajarkan (to learn). Alat yakni geso’-geso’adalah medium yang menghubungkan keinginan dan akal budi manusia menjadi gelombang nada. Sedangkan komposisi nada yang dihasilkan pada hakikatnya bukan saja agar enak didengar namun terpapar simbol-simbol kehidupan yang menghubungkan manusia dengan segala yang bersifat vertical dan horizontal.
Filosofi tersebut seharusnya menjadi wawasan kekinian, modal penting dalam cagar inkulturasi. Pada kenyataannya hal tersebut bertolak belakang dengan realitas yang sebenarnya. Pewarisan seolah-olah menyimpang dari jalur primodialisme yang semestinya tertanam sebagai kewajiban. Tantangan global yang seharusnya menjadi indikator pertahanan tradisi malah memperbesar kesenjangan yang menghadirkan trend baru di kalangan generasi muda yang keliru mengartikan perubahan, dan sebaliknya yang mencoba bertahan dalam tradisi itu pun ikut terseret oleh arus kapitalisme, bahwa tidak ada yang salah dalam pandangan tersebut, karena mereka yang bertahan adalah makhluk ekonomi yang harus terus bertahan hidup, dan bermain geso’-geso’ tidak akan selalu menopang ekonomi keluarga. Pada akhirnya generasi milenial hanya akan menjadi penonton pasif sementara yang masih aktif akan terus hanyut dalam masa keemasan menuju pudar.
Akhir kisah bila fenomena degradasi ini tiba pada titik nadirnya, maka geso’geso’ Malimbong akan punah suatu saat nanti dan pada saat itu kita akan menemukan alat musik ini dimainkan di negara lain sebagai hiburan dan koleksi sejarah. Sebagai produk budaya yang bernilai tinggi, gesso’-geso’ Malimbong menghadirkan peluang nyata bagi generasi milenial terutama bagi pemuda yang berada khusus di Lembang Bo’ne, Malimbong. Peluang tersebut dapat berbentuk komersial maupun berupa dukungan psikologis dan dorongan sosial.
Oleh karena itu, untuk melahirkan peluang tersebut, revitalisasi harus diawali dengan knowledge management yang bersifat lebih adabtable. Prinsip revitalisasi di sini adalah menanamkan sendi-sendi penting berupa nilai-nilai budaya yang bersifat wajib kepada setiap lapisan masyarakat, menekankan peran edukasi yang ada di dalamnya, memobilisasi peran sekaligus fungsi-fungsi agar berjalan beriringan kepada satu tujuan yang mulia yakni roda inkulturasi terhadap produk dan fungsi budaya tetap berjalan terus, otomatis, dalam membentuk serta menata peradaban sosial budaya, agar sekularisme tidak mengikis kepatuhan budaya yang berpotensi merusak ekosistem budaya yang selama ini masih secara turun-temurun tertata rapi di kehidupan keseharian masyarakat Bo’ne, Malimbong. Tentunya skema berpikir cerdas ini bukan pekerjaan yang mudah, sepanjang masih ada arus kesadaran di antara pemangku kepentingan (stakeholder) dan masyarakat, maka eksistensi geso’-geso’ Bo’ne Malimbong akan tetap terawat sepanjang masa.
JAgar terlihat nyata maka diregenarasikanlah para pelaku aktif yang kelak diperhadapkan pada: bermain geso’-geso’ bukan hanya sebagai hiburan namun pula mendatangkan peluang bisnis untuk bermain di hotel-hotel dan pada event yang lebih besar, menjadi pelatih geso’-geso’untuk pembinaan di sekolah-sekolah melalui kerjasama Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata untuk melahirkan muatan lokal kesenian daerah, mengkontemporerkan alat musik tersebut dengan alat musik modern sehingga didapatkan model aransemen musik yang menarik dan trended, manjadikan geso’-geso’ sebagai souvenir untuk wisatawan lokal dan mancanegara, memunculkan paguyuban-paguyuban sebagai modal berkomunitas sehingga memberi ruang bagi pemerintah dan pemerhati untuk memperjuangkan eksistensinya, geso’-geso’ diberdayakan dalam pelayanan di gereja untuk ikut mengiringi puji-pujian, event khusus pertandingan geso’-geso’ diawali di kegiatan 17 Agustus, memperkenalkan peran penting geso’-geso’ melalui media sosial – website khusus -, sub terapis untuk mereka yang membutuhkan ketenangan batin, dan memberdayakannya secara intens melalui kegiatan-kegiatan sosial budaya lainnya yang berfungsi utama merekatkan tali silahturahmi sambil menyeruput nikmatnya kopi Toraja.

