“MODERINISASI TANTANG KEPALA SEKOLAH KUASAI 15 SKIL INI” ORASI ILMIAH PADA PERINGATAN HARI PENDIDIKAN INTERNASIONAL 24 JANUARI 2025
Oleh Sumartoyo, S.Pd., M.Si.
Pergeseran paradigma dan transformasi pengetahuan di ruang pendidikan menantang seluruh elemen dan stakeholder pendidikan untuk beradaptasi dan melakukan inovasi dalam segala hal. Kepala sekolah, guru, siswa, dan seluruh warga sekolah lainnya memiliki kesempatan yang sama untuk membuat perubahan di lingkungan sekolah. Perubahan tersebut mencatut 3 ranah yaitu impelementasi pembelajaran, peningkatan fasilitas, dan penguatan budaya dan karakter.
Sesuai kebutuhan pendidikan abad 21 dan arah pembangunan RI menuju Indonesia Emas 2045, kepala sekolah beserta warga sekolah dan stakeholdernya menjadi pemegang kunci ketiga perubahan tersebut. Tolak ukur pertama adalah di pundak seorang kepala sekolah. Mau ke mana sekolah itu dibawa bergantung kepada kebijakan seorang kepala sekolah dalam menentukan masa depan sekolahnya.
Pentingnya tanggung jawab kepala sekolah di era moderinisasi ini menurut penulis sewajarnya dilandasi oleh 15 skil berikut:
Pengembangan Kompetensi Warga Sekolah untuk pendidikan abad 21
Pengembangan kompetensi abd 21 sudah pada stage mencipta atau adanya revolusi radikal dalam sistim pengembangan SDM berkelanjutan. Di era transformasi digital dan perubahan yang akseleratif, pengembangan kompetensi warga sekolah menjadi fondasi utama dalam membangun sekolah yang adaptif dan berdaya saing. Kepala sekolah harus merancang ekosistem pengembangan profesional yang mengintegrasikan peningkatan hard skills dan soft skills secara berimbang dan kontinue. Program pengembangan guru tidak lagi sekadar berfokus pada penguasaan konten dan pedagogik tradisional, tetapi harus mencakup keterampilan digital, design thinking, dan kemampuan memfasilitasi pembelajaran yang personalized. Untuk staf non-akademik, penguasaan teknologi administratif, customer service excellence, dan agile project management menjadi kompetensi yang tidak terhindarkan.
Strategi pengembangan kompetensi harus bersifat hybrid dan berkelanjutan, memanfaatkan berbagai modalitas pembelajaran seperti micro-learning, peer coaching, dan professional learning community. Kepala sekolah perlu membangun sistem yang mendorong kolaborasi lintas departemen dan pertukaran pengetahuan antar warga sekolah. Program mentoring dan coaching yang terstruktur menjadi kunci dalam memastikan transfer pengetahuan dan keterampilan berjalan efektif. Penggunaan platform pembelajaran digital dan learning analytics memungkinkan personalisasi jalur pengembangan profesional sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing individu. Knowledge management system yang robust juga diperlukan untuk mendokumentasikan dan membagikan praktik-praktik terbaik dalam komunitas sekolah.
Evaluasi dampak pengembangan kompetensi harus dilakukan secara sistematis dengan menggunakan framework yang komprehensif seperti Kirkpatrick Model atau ROI of Learning. Kepala sekolah perlu memastikan adanya korelasi langsung antara peningkatan kompetensi dengan perbaikan kualitas pembelajaran dan capaian siswa. Sistem reward and recognition yang terukur perlu dikembangkan untuk memotivasi continuous improvement dan inovasi di kalangan warga sekolah. Pembangunan talent pool dan succession planning juga menjadi aspek penting untuk memastikan keberlanjutan kualitas SDM sekolah. Dalam konteks ini, kepala sekolah harus memiliki kemampuan mengidentifikasi dan mengembangkan high-potential talents yang akan menjadi future leaders dalam organisasi sekolah.
Jejaring dan Organisasi
Kepala sekolah masa kini dituntut membangun ekosistem kolaboratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia usaha/industri, hingga komunitas pendidikan lokal dan global. Kolaborasi ini menjadi kunci untuk membuka akses sumber daya pembelajaran, program pertukaran, dan inovasi pendidikan yang dapat memperkaya pengalaman belajar siswa.
Kemampuan kepala sekolah berjejaring dan berorganisasi diperlihatkan di sekolah melalui kemampuannya dalam mereorganisasi guru. Pengembangan sayap seorang kepala sekolah adalah kemampuannya yang cakap membangun komunkasi kemitraan terutama dengan pemerintah terlihat bagaimana dia menangkap visi dan misi pendidikan di daerahnya. Kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya menjadi modal baginya untuk mengupayakan sebuah kemitraan yang dapat saling mengisi dan membangun, sebagai modal pengembangan manajemen sekolah.
Jaringan yang dibangun harus bersifat strategis dan berkelanjutan, tidak sekadar seremonial. Hal ini mencakup kemitraan dengan institusi pendidikan, swasta maupun dengan perguruan tinggi untuk pengembangan riset pendidikan, di samping adanya adopsi teknologi pembelajaran, serta kerjasama internasional untuk program pertukaran pelajar dan guru.
Kedewasaan Pribadi
Di era disrupsi dan perubahan yang cepat, kepala sekolah harus memiliki kecerdasan emosional dan ketangguhan mental yang tinggi. Kemampuan mengelola stres, berpikir jernih dalam situasi krisis, dan mengambil keputusan etis menjadi fondasi kepemimpinan yang efektif. Kedewasaan pribadi juga tercermin dari kemampuan kepala sekolah dalam membangun budaya inklusif dan menghargai keberagaman. Kepala sekolah harus menjadi role model dalam menunjukkan empati, spiritual, keterbukaan terhadap umpan balik, dan komitmen untuk pembelajaran sepanjang hayat.
Penguasaan Kurikulum Operasional Sekolah
Kepala sekolah harus mampu membuat visi yang jelas dalam mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan keterampilan abad 21 (critical thinking, creativity, communication, collaboration), pendidikan berbasis lingkungan (energi hijau), budaya setempat (local wisdom) dengan penguatan karakter dan literasi digital serta cakap numerasi. Seorang kepala sekolah perlu memastikan kurikulum bersifat adaptif terhadap perubahan zaman namun tetap mengakar pada nilai-nilai lokal dan nasional, yang menjadi keunikan sekolah tersebut.
Sementara itu pengembangan kurikulum juga harus memperhatikan personalisasi pembelajaran dan diferensiasi instruksional untuk mengakomodasi kebutuhan belajar yang beragam. Kepala sekolah perlu mendorong integrasi project-based learning, STEAM education, dan entrepreneurship education dalam kurikulum operasional sekolah yang mengidentifikasi sekolah tersebut memahami kebutuhan pembelajaran terkini.
Membentuk Budaya Sekolah
Era digital menuntut transformasi budaya sekolah menjadi learning organization yang agile dan inovatif. Kepala sekolah berperan krusial dalam membangun ekosistem yang mendorong eksperimentasi, toleransi terhadap kegagalan, dan semangat perbaikan berkelanjutan.
Budaya sekolah yang dibangun harus menekankan pada kolaborasi, keterbukaan terhadap ide baru, dan growth mindset. Ini mencakup penciptaan ruang-ruang kreatif, forum berbagi praktik baik, dan sistem penghargaan yang mendorong inovasi pembelajaran.
Budaya sekolah yang beragam yang bisa saja adalah kolaborasi dari berbagai bentuk sumber inspirasi dan perbuatan haruslah menjadi simbolisasi atau ikon sekolah tersebut. Budaya menjadi identitas sekolah sekaligus menjadi etor kerja yang mendorong semangat pengabdian oleh warga sekolah. Sekolah tentu memiliki iklim budaya yang selaras dengan keyakinan, minat, dan kesadaran anak dan guru. Sehingga perlu diperhatikan 3 pilar budaya antara lain: principle, practices, dan pattern.
Teknologi dan Inovasi Pembelajaran
Kepala sekolah harus menjadi digital leader yang memahami potensi dan tantangan teknologi dalam pembelajaran. Mereka perlu membangun infrastruktur digital yang kokoh, sambil memastikan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab dan berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran. Sekolah dengan kondisi lingkungan yang sulit didukung oleh teknologi tidak menjadi halangan bagi sekolah tersebut untuk menghadirkan media pembelajaran dan informasi yang sederhana. Sekolah tersebut dapat memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai corong teknologi, atau teknologi sederhana yang menginspirasi peserta didik.
Inovasi pembelajaran tidak hanya tentang adopsi teknologi, tetapi juga transformasi pedagogi yang lebih berpusat pada siswa. Kepala sekolah harus mendorong pengembangan blended learning, flipped classroom, dan pembelajaran adaptif berbasis Artificial Intelligence, metaverse, sambil tetap memperhatikan aspek keamanan digital dan kesenjangan akses. Pemanfaatan ragam teknologi disesuaikan dengan kondisi ekosistem sekolah pada dasarnya mempermudah sekolah dalam pengembangan manajemen dan memaksimalkan tujuan pembelajaran.
Program Sekolah Berorientasi Peserta Didik
Program sekolah perlu dirancang dengan pendekatan human-centered design yang menempatkan kebutuhan dan aspirasi siswa sebagai fokus utama. Kepala sekolah harus memastikan setiap program memberikan pengalaman belajar yang autentik dan relevan dengan tantangan dunia nyata. Oleh karena itu pembelajaran yang berdifrensiasi sangat dibutuhkan demi mendorong berbagai minat dan bakat siswa diwujudkan melalui pengalaman belajar.
Hari ini guru diperhadapkan pada jutaan sumber belajar yang tidak terbatas, sehingga tugas guru tidak lagi mengkomunikasikan iptek kepada siswa, melainkan mengkonversi berbagai sumber belajar yang relevan yang dibutuhkan siswa. Siswapun hari ini dengan berbagai sumber belajar yang mudah diakses bahkan bisa saja lebih hebat dari gurunya. Sifat inquiry dalam diri mereka lebih besar dari ajakan sang guru, sehingga guru harus memanfaatkan moment tersebut dengan cara mengajak mereka berdiskusi intens tentang apa yang telah mereka pelajari dari dunia yang nyata dan tidak nyata.
Orientasi pada murid juga berarti memberikan ruang bagi pengembangan soft skills dan karakter yang esensial untuk kesuksesan di masa depan. Program-program seperti student leadership, social entrepreneurship, dan global citizenship education hanyalah sebagian kecil dari banyaknya program yang perlu menjadi bagian integral dari pengalaman belajar siswa.
Manajemen Operasional
Kepala sekolah era digital dituntut mengembangkan sistem manajemen sekolah yang terintegrasi dan berbasis data. Penggunaan school management system, learning management system, dan analytics tools menjadi krusial untuk mengoptimalkan proses operasional dan pengambilan keputusan berbasis bukti, bukan berdasarkan analisa fiktif. Kepala sekolah perlu memahami mengapa riset dibutuhkan untuk memahami kompleksitas kebutuhan dalam sekolahnya. Dia tidak perlu bekerja sendiri, namun ada tim sekolah yang akan memetakan kebutuhan manajemen operasional pada skala-skala tertentu yang sifatnya urgen.
Selain itu jika seorang kepala sekolah mampu mereorganisasi guru-gurunya, efektifitas dan efisiensi operasional di sekolah dapat berjalan dengan baik. Hal tersebut dapat memperngaruhi otomatisasi tugas-tugas administratif, manajemen sumber daya yang berkelanjutan, dan sistem monitoring real-time. Kepala sekolah juga harus dapat memastikan semua proses operasional mendukung terciptanya pengalaman belajar yang optimal dan lingkungan kerja yang produktif.
Manajemen Finansial
Di era kompetisi global, kepala sekolah harus menguasai financial literacy dan kemampuan mengelola sumber daya keuangan secara strategis. Ini mencakup diversifikasi sumber pendanaan, pengembangan unit bisnis sekolah, dan optimalisasi investasi untuk pengembangan infrastruktur pembelajaran. Mereka dapat mempelajari bagaimana dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) difungsikan sesuai tujuan pendidikan di sekolah tersebut. Jika daya dukung BOS dirasa tidak mencukupi untuk biaya inovasi, kepala sekolah dapat mengupayakan sumber pendanaan lainnya melalui berbagai cara, misalnya kemitraan dengan BUMDES, Koperasi, menjalin kemitraan CSR, UMKM sekolah, dan upaya-upaya lainnya yang memiliki daya dukung.
Transparansi dan akuntabilitas keuangan harus didukung sistem digital yang terintegrasi. Kepala sekolah perlu mengembangkan model penganggaran berbasis kinerja dan dampak, serta memastikan alokasi sumber daya yang seimbang antara pengembangan akademik dan non-akademik. Dengan kata lain, penggunaan dana bagi kepentingan siswa haruslah berdampak tidak dari sisi keberlangsungan operasional sekolah melainkan pula pada peningkatan kualitas pembelajaran yang ada di sekolah.
Perencanaan Strategi
Kepemimpinan abad 21 membutuhkan kemampuan berpikir sistemik dan antisipatif dalam menyusun roadmap pengembangan sekolah. Kepala sekolah harus mahir menggunakan tools seperti scenario planning, design thinking, dan strategic foresight untuk menavigasi ketidakpastian dan perubahan yang cepat. Ini sangat penting, karena beberapa sekolah maju didesin dengan perencanaan jangka panjang yang berdampak pada seluruh pencapaian kompetensi pada sekolah tersebut.
Perencanaan strategis harus bersifat agile dan adaptif, dengan mekanisme review berkala untuk memastikan relevansi dengan perkembangan zaman. Fokus utama adalah membangun competitive advantage sekolah melalui diferensiasi program, keunggulan SDM, dan inovasi pembelajaran. Tujuannya, menjadikan sekolah tersebut sebagai pusat studi kompetensi, bukan hanya sebagai tempat atau fase belajar, jenjang semata untuk anak naik kelas dan lulus.
Branding Sekolah dan PPDB
Banyak kepala sekolah memaknai branding sebatas promosi sekolah. Paradigma ini usang di era digital. Era digital sebaliknya menuntut strategi branding yang autentik dan berbasis konten berkualitas. Kepala sekolah perlu membangun digital presence yang kuat melalui berbagai platform, sambil memastikan brand promise sekolah tercermin dalam pengalaman nyata seluruh stakeholder.
Sering kali proses PPDB dirancang hanya untuk menerima dan mengorientasi siswa, buka dirancang dengan pendekatan customer journey yang seamless, didukung sistem digital yang user-friendly. Strategi rekrutmen siswa harus memperhatikan keseimbangan antara pencapaian target kuantitatif dan penjagaan standar kualitas input. Itulah mengapa ada istilah diagnostik usual primer yang misalnya antara pihak Sekolah Dasar dengan SMP perlu membangun relasi data yang kuat bagi peserta didik yang akan naik fase.
Marketing dan Komunikasi Sekolah
Perubahan lingkungan yang cepat memaksa seorang kepala sekolah untuk menguasai digital marketing dan storytelling yang efektif untuk mengkomunikasikan value proposition sekolah. Penggunaan multimedia content, social media engagement, dan virtual showcase menjadi kunci dalam membangun komunitas dan trust dengan stakeholder, mengingat orang-orang saat ini perilaku komunikasinnya lebih intens secara online.
Strategi komunikasi harus bersifat dua arah dan real-time, memanfaatkan berbagai kanal digital untuk memfasilitasi dialog konstruktif dengan orang tua, alumni, dan masyarakat. Kepala sekolah juga perlu membangun sistem manajemen reputasi yang efektif di era informasi yang sangat cepat. Dia harus mampu mengkomunikasikan sekolahnya dengan dunia luar melalui berbagai konten digital, tanpa mempengaruhi dana operasional sekolah.
Leadership dan Motivator
Kepemimpinan di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) membutuhkan kombinasi transformational leadership dan servant leadership. Kepala sekolah harus mampu menginspirasi perubahan sambil memfasilitasi pertumbuhan setiap individu dalam komunitas sekolah. Leadership tidak lagi berbicara soal mengayomi, kepala sekolah adalah mentor transformasi yang fungsinya fleksibel dan kompatibel dengan seluruh kepentingan sekolah yang di dalamnya ada guru, siswa, dan stakeholdernya.
Selain itu, kemampuan memotivasi harus didukung dengan emotional intelligence dan cultural intelligence yang tinggi. Kepala sekolah perlu menciptakan sistem pengembangan leadership pipeline untuk memastikan keberlanjutan kepemimpinan yang berkualitas. Dia adalah modeling yang mampu mengkulturasi sifat-sifat dari seluruh kompetensi kepala sekolah kepada guru, siswa, dan kepada masyarakat.
Manajemen Konflik dan Resolusi Masalah
Di tengah kompleksitas hubungan stakeholder dan dinamika perubahan, kepala sekolah harus mahir dalam conflict prevention dan resolution. Pendekatan mediasi yang konstruktif dan restorative justice menjadi penting dalam mengelola berbagai kepentingan dan ekspektasi. Sistem penanganan krisis dan manajemen risiko harus dibangun secara komprehensif, didukung protokol yang jelas dan tim yang terlatih. Kepala sekolah juga perlu mengembangkan budaya dialog dan collective problem-solving dalam menghadapi ragam tantangan.
Evaluasi dan Penjaminan Mutu
Tahun 2025 ditandai sebagai era akuntabilitas menuntut sistem evaluasi yang komprehensif dan berbasis teknologi. Kepala sekolah harus mengembangkan mekanisme assessment yang mengukur tidak hanya capaian akademik, tetapi juga soft skills, karakter, dampak sosial, dan bagaimana budaya pembelajaran menjadi cermin refleksi sekolah tersebut.
Penjaminan mutu harus bersifat siklikal dan terintegrasi dalam budaya kerja sehari-hari. Penggunaan data analytics dan artificial intelligence dapat membantu mengidentifikasi area pengembangan dan mengukur efektivitas berbagai program sekolah secara lebih akurat. Kehadiran dan kemampuannya mengajar di kelas harus selalu dievaluasi secara klinis, agar problem solving yang nyata terlihat dan tidak kelihatan dapat diselesaikan sesuai dengan tujuan pendidikan.
Editor: HAJAR ASWAT (Instruktur Guru Penggerak Luwu Utara)

