“Dampak Perjumpaan dengan Juruselamat di Betlehem” Menjadi Tema KKR Malam Penutupan Natal Umum Gereja KIBAID
LINTAS1AGUPENA.ORG – MAKALE. Minggu 29 Desember 2024, Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal Umum KIBAID hari keempat menghadirkan Pdt. Yulianus Tandirerung Ketua Sinode Gereja KIBAID yang membawakan firman Tuhan dari Kitab Lukas 2:15 dan 20 dengan tema “Dampak Perjumpaan dengan Juruselamat di Betlehem”. Dalam khotbahnya, beliau mengupas makna mendalam dari Betlehem sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus.
“Betlehem bukan sekadar tempat kelahiran Yesus, tetapi memiliki makna yang jauh lebih dalam. Kota ini dikenal sebagai kota Daud, tempat ia diurapi menjadi raja. Betlehem juga dikenal sebagai ‘rumah roti’, yang menggambarkan Yesus sebagai makanan rohani bagi umat manusia,” jelas Pdt. Yulianus mengawali khotbahnya.
Mengambil ilustrasi dari kisah Naomi dan Ruth, Pdt. Yulianus mengingatkan jemaat tentang pentingnya mengandalkan rancangan Tuhan, bukan analisa duniawi. “Naomi pernah meninggalkan Betlehem karena kesulitan, namun akhirnya kembali bersama menantunya, Ruth, yang setia mengikutinya. Ini menggambarkan bahwa kadang kita perlu kembali ke ‘rumah roti’ spiritual kita,” ungkapnya.
Momen istimewa terjadi ketika Oma Raba, guru sekolah Minggu Pdt. Yulianus di tahun 70-an yang telah melayani Tuhan puluhan tahun, membagikan kesaksiannya. “Waktu untuk melayani Tuhan sangat terbatas,” ungkap hamba Tuhan senior ini dengan penuh semangat, mengingatkan jemaat akan pentingnya menggunakan setiap kesempatan untuk melayani Tuhan. Kesaksian ini memperkuat pesan Pdt. Yulianus tentang pentingnya bergerak dalam misi Allah.
Lebih lanjut, Pdt. Yulianus memaparkan berbagai gelar Yesus yang terkait dengan Betlehem. “Yesus adalah air hidup, seperti yang dikatakan-Nya kepada perempuan Samaria. Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, Raja Damai seperti Daud, dan Imanuel yang berarti Allah beserta kita,” terangnya sambil menjelaskan korelasi antara Yesus dengan Yerusalem.
Dalam penjelasan tentang dampak perjumpaan dengan Juruselamat, Pdt. Yulianus menekankan empat hal penting. Pertama, seperti para gembala yang memuji dan memuliakan Allah, jemaat dipanggil untuk memuliakan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan. Kedua, perjumpaan ini menimbulkan kegerakan untuk memberitakan Injil, seperti yang ditunjukkan Maria dan Elizabeth yang diliputi Roh Kudus.
“KIBAID memiliki visi menjadi jemaat misioner melalui Misiodei, Misiochristos, dan Misioekslesia,” tegasnya sambil membagikan kisah sukses penginjilan KIBAID di Beteleme, Sulawesi Tengah.
Mengakhiri khotbahnya, Pdt. Yulianus mengajak jemaat untuk saling memberkati dan menghargai, merujuk pada Lukas 1:41-42. “Melalui perkataan dan perbuatan, mari kita saling memberkati dan menghargai sebagai dampak dari perjumpaan kita dengan Juruselamat di Betlehem,” pungkasnya, seraya mengajak jemaat untuk mengikuti teladan pelayanan seperti yang ditunjukkan oleh para pendahulu seperti Oma Raba.
Humas

